Kalian merokok? Silahkan, Tapi, mari kita Peduli.
He want go back to home in the afternoon.
My GrandMa , Pray
My cousins play chess.
My GrandPa’s turtledove bird.
Senyum…
RATU ADIL
UDAR – RASA
Ratu Adil
Oleh Breh Redana
Gara-gara jadi wartawan, terutama saudara-saudara di kampong menganggap saya tahu segala hal. Terakhir, ketika saya pulang kampong di lereng Gunung Merbabu, mereka Tanya siapa bakal jadi presiden tahun 2014. Saya jawab tidak tahu, bahkan tak pedui, tak ada gunanya. Setelah percakapan ngalor-ngidul, mereka akan balik bertanya lagi siapa kira-kira presiden nanti. Agaknya mereka benar-benar sudah putus asa dengan yang sekarang.
Maka, untuk menyenangkan, menghibur, basa-basi, saya terpaksa mengarang-ngarang jawaban. Presiden kita nanti Ratu Adil, jawab saya. Hah? Mereka tersentak. Sebagian masyarakat Jawa masih hidup dalam gagasan mesianik bahwa di tengah krisis akan datang Ratu Adil.
‘Ratu Adil?” Tanya mereka seakan mendapat awaban berkualifikasi sangat istimewa dari Jakarta.
“Ya. Ini zaman kalabendu.”
Zaman kalabendu adalah zaman di mana orang kehilangan rasa kepantasan. Sudah jelas tersangka korupsi masih pesta-pesta dalam gelimang kemewahan, sumringah disorot publik. Pesannya: “Gue korupsi, emang kenapa…” Rakyat krisis, pemimpin nyanyi-nyanyi, bikin album. Bukannya itu dilarang. Tak ada hukum yang mengatur, tetapi itulah contoh hilangnya rasa kepantasan.
“mereka tak punya tepo seliro..” ucap saya. Sengaja saya pilih istilah bahasa Jawa. Kalau saya menggunakan kata empati, saudara-saudara saya yang ndesit ini tak bakal paham.
“Yo, ora duwe tepo seliro,” kata seorang tetangga yang ikut ngobrol. Namanya Tanto. Teman masa kecil. Dulu, dia pernah dirawat di Rumah Sakit Jiwa Magelang. Stress memikirkan keadaan.
Semua mengangguk-angguk. Satu sama lain berlomba melontarkan keprihatinan. Beberapa keponakan katanya sudah ikut-ikutan berbohong mengikuti teladan di televisi. Untuk mengelak dari kesalahan karena pulang ke rumah telat, “dari mana saja tadi” dijawab “tidak tahu”, “lupa”. Pertanyaan ‘sampai rumah jam berapa” dijawab “lupa”, “tidak lihat jam”. Semua anak bercita-cita jadi selebritas.
“opo tho selebritas kuwi?” ada yang bertanya. Lihat, lanjutnya menunjuk acara televisi di pagi hari. Remaja jadi pelengkap tak penting program televisi, berjajar-jajar berdiri di belakang penyanyi, menggerakkan tangan kaki seadanya. Apa mereka tidak sekolah? Mahasiswa, dengan jaket universitasnya, menjadi penggembira acara talk show konyol-konyolan. Mereka tidak menghargai intelektualitas. Lalu buat apa jadi mahasiswa.
Orang tidak membereskan apa yang menjadi kewajiban pokok. Semua orang melakukan apa saja, kecuali tugas pokok. Seperti itu tadi, rakyat lapar, pendidikan berantakan, pemimpin bernyanyi-nyanyi.
Ketika muncul masalah, instansi tertinggi yang bertugas membereskan masalah bilang “saya perintahkan, saya instruksikan, supaya dituntaskan” dan seterusnya. Terbentang lebar jarak operasional antara pihak yang harus menyelesaikan dan persoalan yang dibereskan. Persoalan pun kian menumpuk karena tak ada yang benar-benar menangani. Ketika persoalan menumpuk, giliran orang menjadi awang-awangen.
“Ya, awang-awangen,” kata Tanto agi. Awang-awangen berarti gamang.
Semua orang menunggu orang lain bertindak. Kemudian muncul calo. Di republik calo, hukum diurusi makelar perkara (saya tak mau menggunakan istilah markus-makelar kasus). Kasihan orang yang bernama Markus), keamanan dipegang organisasi preman, masa depan bangsa ditangani para petualang politik.
Itula zaman kalabendu. Nanti akan datang Ratu Adil, kata saya.
“Wis siap Ratu Adil-e (Sudah siap Ratu Adil-nya)” Tanya Tanto.
“Tergantung, kowe wis siap during (Tergantung, kamu sudah siap atau belum).”
“Kok, aku?” tanyanya.
Saya jawab, Ratu Adil itu pengejawantahan kekuatan rakyat. Rakyat harus bertindak.
“Jadi, kamu yang harus bertindak,” kata saya.
“Oooh…” ucapnya manggut-manggut. Matanya melihat jauh. Saya tak tahu maknanya.
(Kompas Minggu, 4 Maret 2012), Rubrik Pesona – Hal 23)
Hi Danbo.. Nice to meet you.
Danbo [1]. Keep , , , ,




![Danbo [1]. Keep , , , ,](http://24.media.tumblr.com/tumblr_lzolb3bMUz1qa8mr6o1_1280.jpg)